rss

Welcome

Sahabat pergerakan yang berbahagia, PMII Aceh saat ini telah pindah alamat ke Jl. Prada Utama Lr. Apel No1 Lamgugob Banda Aceh. Untuk itu, jika ada keperluan harap hubungi alamat tersebut.

Bagi Sahabat-sahabat yang ingin menyumbangkan tulisan, silahkan kirim ke email: pmiiaceh@gmail.com


Labels

Kunjungi Juga

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

November 5, 2010

Teori Kepemimpinan

0 komentar
A. PENDAHULUAN
Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak kita ketika berbicara tentang kepemimpinan. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah pemimpin itu lahir begitu saja (pemimpin suatu kelompok)? Kalau singa, sudah dilahirkan menjadi raja hutan, tetapi manusia ada yang memiliki bakat menjadi pemimpin, belum tentu dapat memimpin dengan baik kalau tidak disertai dengan ilmu. Untuk menjawab pertanyaan ini ada satu selogan yang dapat kita jadikan dasar pemikiran agar mempelajari teori kepemimpinan yaitu Semua manusia dilahirkan kedunia ini untuk memimpin, paling tidak pemimpin dirinya sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana seorang pemimpin dapat membangun dan berpengaruh dalam lingkungan yang dipimpinnya ? Pertanyaan – pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan menggunakan teori kepemimpinan.

July 26, 2010

Sejarah Penamaan PMII

0 komentar
Oleh: Fajri M. Kasem

Pergerakan Mahasiswa Islam dengan singkatan “PMII”, setelah melalui perdebatan yang begitu alot. Apakah PMII itu singkatan dari “Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia atau “Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia?"

Dari semua itu, ternyata permasalahannya mengerucut pada haruf “P”. Kemudian atas dasar pemikiran bahwa sifat mahasiswa itu diantaranya harus aktif, dinamis atau bergerak (movement). Selanjutnya mendapat awalan “Per” dan akhiran “an”, maka disepakati huruf “P” kependekan dari “Pergerakan.”

June 6, 2010

ACHEH-SUMATRA MERDEKA

0 komentar
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

KEPADA BANGSA-BANGSA DI DUNIA,
Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak kami untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, dengan ini menyatakan diri kami dan negeri kami bebas dan merdeka dari penguasaan dan penjajahan regime asing Jawa di Jakarta.

Tanah air kami Acheh, Sumatera, telah menjadi satu negara yang bebas, merdeka dan berdaulat selama dunia terkembang, Belanda adalah penjajah asing yang pertama datang mencoba menjajah kami ketika ia menyatakan perang kepada negara Acheh yang merdeka dan berdaulat, pada 26 Mart 1873, dan melakukan serangan atas kami pada hari itu juga, dengan dibantu oleh serdadu-serdadu sewaan Jawa, apa kesudahannya serangan Belanda ini sudah tertulis pada halaman muka surat-surat kabar di seluruh dunia, surat kabar London "Times" menulis pada 22 April, 1873:

May 13, 2010

Janji Palsu dan Tipu Muslihat Soekarno

0 komentar
Foto: repro
Oleh: Azwar AG

Tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno Hatta. Pernyataan kemerdekaan itu tidak langsung diterima dengan baik oleh semua pihak, terutama Belanda dengan gigih berusaha untuk kembali menguasai seluruh kepulauan Indonesia.

May 4, 2010

PENDIDIKAN MERDEKA

1 komentar
Ilustrasi: repro
Oleh : Maimun Panga

Secara lahirilah, negeri ini memang sudah merdeka. Perubahan fisik juga tampak menonjol, Kota-kota besar di negeri ini juga berupaya mengimbangi dinamika penduduk yang terus meningkat dengan menambah sejumlah jaringan infrastruktur publik wah dan memanjakan. Namun, secara batiniah, diakui atau tidak, negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Reformasi kultural yang gagal dinilai telah membangkitkan kembali meruyaknya semangat primordialisme yang mengagungkan egoisme, feodalisme, fanatisme sempit yang berujung pada merajalelanya kekerasan.

May 3, 2010

Cermin Politik

0 komentar
Ilustrasi: repro
Oleh : Maimun Panga

Islam memiliki politik yang indah dan membangun dengan motode mengatur kepemilikan berdasarkan kebebasan, melindungi kepentingan umum, keadilan sosial dan menciptakan ketenangan seluruh masyarakat. Dengan mempertimbangkan tujuan dasar hidup dalam timbangan persaudaraan, semua bangsa sama. Karena al-Quran mengatakan bahwa, “Tolong menolonglah dalam berbuat kebaikan dan takwa. Janganlah bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.”
Keistimewaan suku dan ras sosial harus disingkirkan. Karena, semua itu bukan ukuran. Sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah Swt adalah yang paling takwa di antara kalian.

Aristoteles yang sering di juluki sebagai perintis ilmu politik, dalam nichomachaen ethics menyebutkan, politik merupakan ilmu yang paling tinggi kedudukannya di banding ilmu-ilmu lainnya. Alasan utamanya karena tujuan dan target akhir politik ialah bagaimana menyelenggarakan kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang sehat, sehingga semua warga Negara merasa dilindungi dan di bela hak-haknya untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat sesuai bakatnya. Oleh karena sasaran akhir mensejahterakan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, maka menurut aristoteles, semua cabang ilmu lain bersifat melayani ilmu politik dan aktivitasnya.

Berdasarkan logika ini, para filosof yunani kuno umumnya memandang politik sebagai seni dan ilmu yang sangat terhormat dan para politisi harus memiliki kualitas moral dan intelektual tinggi. Bila politisi tidak bermoral dan tidak memiliki kapasitas intelektual, mana mungkin mareka bisa mendidik dan mendesain masyarakat agar hidup dan berkembang menjadi masyarakat yang beradab.

Memang ada pujian dan tidak luput juga dari kritikan terhadap aristoteles yang memandang politik begitu indah dan terhormat. Salah satu ciri pemikiran yunani kuno adalah menganalogkan dan mengidealkan kehidupan social dengan hukum dan ritme alam. Alam raya ini bertahan karena setia mengikuti hukum-hukumnya sehingga realita alam disebut kosmos, yaitu kehidupan yang serba indah dan teratur.

Meski demikian, dari sisi naluri emosional, salah satu aspek yang permanent menurut Thomas hobbes (1588-1679), manusia adalah serigala bagi yang lain. Jika dalam kondisi lapar dan terancam, ia tak akan segan-segan menikam lawannya. Sikap bersahabat sesungguhnya bukan watak dasar manusia, katanya. Persahabatan selalu bersifat sesaat dan itu berlangsung jika masing-masing merasa saling di untungkan dan saling takut untuk menyerang yang lain. Namun ketika yang satu sudah merasa di atas angin, ia akan menggertak yang lain. Menurut Nietzsche(1844-1900), naluri yang tak pernah padam adalah kehendaknya untuk berkuasa. Duduk dalam singgasana kekuasaan adalah suatu kebahagiaan,kenikmatan dan kepuasan tersendiri.

Begitulah, melihat kenyataan panggung politik selama ini, yang tidak seindah sebagaimana di bayangkan dan diteorikan para filosof klasik. Maka penegakan demokrasi dan advokasi terhadap hak-hak asasi manusia menjadi sejarah yang tidak pernah padam. Romantisme politik yang di bayangkan Rousseau (1712-1778) kini mulai diapresiasikan masyarakat modern. Modernisasi, kata rousseau, telah merenggut kekayaan dan ketenangan batin manusia sehingga kehidupan menjadi hiruk-pikuk, pengap, dan dimana-mana terjadi perebutan dan perkelahian untuk memuaskan nafsu pemilikan yang tak kenal batas. Dimana-mana ditemukan paradoks, krisis dan ironi, yang lahir dari “modernisasi” dan “ pembangunan”.

Meminjam istilah Habermas, salah satu model yang perlu di kembangkan dalam merespon krisis modernitas adalah apa yang disebut paradigm. Kata merujuk pada actor bahwa tiap individu dan kelompok adalah bagian dari sebuah entitas social yang tidak bisa di pisahkan. Kekuatan utama yang memelihara dan membangun kohesivitas sosial adalah komunikasi bahasa yang di sampaikan secara rasioanal dan mudah di pahami, sehingga masyarakat tahu arah wacana yang berkembang.

Oleh karena itu, menjadi agenda penting bagi elit politik dan pemimpin bangsa adalah mengembangkan keberadaan politik (political civility) berupa wacana dan komunikasi politik yang konstruktif, inspiring,, santun dan mendekatkan pada penyelesaian masalah.

Dengan alur logika itu, kita sering merasakan, wacana dan komunikasi politik yang di kembangkan para elit politik sering tidak rasioanal, sehingga masyarakat sulit menyikapi secara santun dan partispatif. Rasionalitas yang di kembangkan adalah apa yang oleh Habermas disebut strategic rationality, yaitu rasionalitas “akal-akalan” untuk memperjuangkan kepentingan diri dengan cara menjatuhkan pihak yang lain.

Sebuah komunikasi yang sehat adalah yang bersifat emansipatoris rationality, komunikasi yang jujur, rasional dan memberi peluang bagi siapapun untuk berpartispasi membangun wacana yang sehat seraya menjauhkan kehendak untuk menang sendiri.

Dalam psikologi komunikasi dikenal tiga macam cara menyampaikan gagasan, yaitu: seseorang menyampaikan gagasan namun selalu menimbulkan korban karena ada pihak yang merasa di serang oleh pernyataannya. Komunikasi agresif adakalanya diperlukan, namun jika terlalu sering akan memperbanyak lawan sehingga berimplikasi memperbesar persoalan, bukannya penyelesaian. Permisif, orang yang selalu bersikap kalah dan mengalah sehingga memungkinkan orang lain untuk menginjak-injak haknya.

Asertif, yaitu, sesorang mengkomunikasikan pikiran-pikirannya secara jelas dan tegas, akan tetapi tidak ada pihak yang merasa di sakiti dan di rendahkan. Bagi masyarakat yang beradad, permainan politik dapat dilihat dari permainan sepak bola. Karena keduanya tentu punya beberapa kesamaan yang fundamental. Teori Thomas hobbes dan Nietzsche tentang naluri manusia untuk menang dan berkuasa atas yang lainnya merupakan motor penggerak ketika sesorang bertanding, Baik dalam sepak bola maupun dalam pertarungan politik bertujuan memperebutkan kemenangan untuk kekuasaan.

Dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan, hubungan antara agama dan politik jelas memiliki suatu keterkaitan, namun tetap harus dibedakan. Satu pihak, masyarakat agama memiliki kepentingan mendasar agar agama tidak dikotori oleh kepentingan politik, karena bila agama berada dalam dominasi politik, maka agama akan sangat mudah diselewengkan. Akibatnya agama tidak lagi menjadi kekuatan pembebas atas berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan, sebaliknya agama akan berkembang menjadi kekuatan yang menindas dan kejam.

Di pihak lain, adalah kewajiban moral agama untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menurut seleranya sendiri yang bisa membahayakan kehidupan. Agar agama dapat menjalankan peran moral tersebut, maka agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya yang mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum.

Dalam konteks keterkaitan ilmiah, maka hubungan antara agama dan politik harus kita waspadai sehingga ia tidak sampai berjalan pada posisi yang salah. Salah satu ukuran atau kunci yang paling mudah dikenali agar kita dapat menarik batas yang mana politik yang harus dihindari sehingga kita tidak terjebak ke dalam arus politik kotor, Artinya politik yang harus dihindari adalah politik yang menyangkut perebutan kekuasaan melalui penggunaan kekerasan, termasuk dengan memperalat orang lain atau suatu organisasi, apalagi bila sudah menggunakan simbol-simbol agama yang bisa sangat menyesatkan.

Jadi, agama secara moral dan politis berada pada posisi yang benar pada saat agama tidak menjadi alat untuk memperebutkan atau mempertahankan status quo kekuasaan. Sehingga pada saat agama mengarah kepada politik kekuasaan, pada saat itulah agama dalam posisi yang salah dan berbahaya. Jadi ada 2 hal keterkaitan yang menjadi wacana per-diskusian, pertama bagaimana agama dapat membentengi diri mereka dari setiap kecenderungan/kekuatan politik yang berkembang di sekitar, sehingga agama dapat tetap menjadi kekuatan pembebas dan bukan sebaliknya menjadi yang dibebaskan atau pencipta masalah karena telah terdistorsi oleh kekuatan-kekuatan politik tersebut. Kedua bagaimana agama dapat memainkan peran moral mereka untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menyimpang dan menekan kehidupan.

Tetapi kedua hal di atas hanya dapat berjalan dengan baik bila kita memiliki pemahaman yang cukup mendalam atas setiap proses politik yang berjalan. Tanpa adanya pemahaman atas proses politik, sulit bagi kita untuk membentengi diri karena proses pemahaman tersebut akan menimbulkan kepekaan nurani pada saat politik berjalan pada arah yang salah, sekaligus menimbulkan suatu perencanaan bagaimana arah politik yang seharusnya dan diharapkan, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang menjadi keyakinan kita, baik menyangkut rasa keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan.

Sebaliknya, kebutaan kita atas persoalan politik akan membuat kita begitu mudah dibodohi oleh kepentingan-kepentingan dan muatan-muatan politik yang tidak jelas arahnya. Jadi usaha agar agama tidak dikotori dan diberi muatan politik tidak berarti agama harus mengalami pendangkalan fungsinya sebagai agen pembebas. Justru pemahaman atas proses politik diperlukan karena agama memiliki peranan yang penting agar nilai-nilai moral dan spiritual mampu memberikan muatan bagi politik, bukan sebaliknya. Selain itu, saat ini pemahaman atas sistem politik, baik yang menyangkut masalah ekonomi maupun sosial menjadi semakin penting. karena berbicara mengenai bagaimana kita memahami penderitaan, untuk kemudian memahami sebab dan jalan untuk mengatasinya, kita akan kehilangan akarnya bila tidak sanggup lagi berbicara dan peduli dengan penderitaan dunia saat ini yang sudah sedemikian kompleks.

Naluri primitive yang agresif dan destruktif itu dalam masyarakat beradab, missal sepak bola memperoleh sublimasidan rasionalisasi sehingga berubah menjadi sebuah festival yang mencakup berbagi dimensi seperti unjuk kecerdasan berupa taktik dan tipu muslihat, baik dalam menyerang maupun bertahan diri, keindahan dan kecepatan gerak, ekpose desaian kostum, mobilisasi supporter, juga bisnis. Dalam pertarungan sepak bola target akhir adalah “membunuh” lawan, namun “pembunuhan” itu disublimasikan dalam bentuk membobol gawang lawan dengan menghujam “senjata” gol.

Meski tiap pertandingan ada yang “kalah” dan “menang” masing-masing di harapkan bersikap ksatria dan sportif karena permainan berlangsung terbuka, aturan main jelas, ada wasit yang adil dan berwibawa, dan mata public ikut mengawasi. Siapapun pemain atau wasit yang curang sama dengan membunuh karir sendiri dan akan di kutuk public.

Maka jangan heran jika elit politik juga menjadi tokoh olah raga. Pertanyaan akhir adalah bagaimana kualitas persepakbolaan di nusantara ini? Bagaimana kualitas pemain, kualitas wasit, sikap sopporter, juga mental pengurus?, jika ini terus terjadi maka menjadi benar apa kata Muladi SH tempo doeloe bahwa, parpol sebagai sumber konflik. Semoga pilpres 2009 akan membawa perubahan…. Amin.

Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah

0 komentar
Sejarah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah

Sebenarnya sistem pemahaman Islam menurut Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah hanya merupakan kelangsungan desain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab Mu’tazilah pada abad ke II H. Seorang Ulama’ besar bernama Al-Imam Al-Bashry dari golongan At-Tabi’in di Bashrah mempunyai sebuah majlis ta’lim, tempat mengembangkan dan memancarkan ilmu Islam. Beliau wafat tahun 110 H. Di antara murid beliau, bernama Washil bin Atha’. Ia adalah salah seorang murid yang pandai dan fasih dalam bahasa Arab.

NILAI DASAR PERGERAKAN

0 komentar
A. Pendahuluan

Rumusan ini dibutuhkan untuk memberi kerangka, arti, serta motivasi gerakan sekaligus memberikan legitimasi dan memperjelas apa yang harus dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita perjuangan sesuai dengan maksud didirikannya organisasi PMII.

May 1, 2010

MENGGUGAT JANJI POLITIK

0 komentar
Demokrasi liberal selalu menghasilkan citra dan harapan yang luar biasa bagi pemeluknya. Semua kaum demokrat yang beriman pada demokrasi liberal akan mengalami candu kebebasan hidup.

Padahal, romantisme kebebasan dapat mengakibatkan kebiasaan berfantasi yang akan menjadikannya ”tidak mampu” untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan nyata. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Setiap caleg dan capres/cawapres sedang berlomba-lomba memoles wajahnya melalui iklan-iklan politik agar mendapat simpati publik.

Jika mencermati janji dalam iklan-iklan itu seakan-akan kita melihat bahwa mereka (yang beriklan) lebih utama dari bekerja. Mereka yang belum bekerja, seakan-akan sudah bekerja. Mereka yang tak punya visi, seakan-akan punya gagasan besar yang dapat diimplementasikan. Mereka yang berwajah bopeng dan tak sempurna, akan terlihat smart dan menggiurkan bila dilihat dari iklannya.

Haba Pergerakan

Hai semua!!!

Kok bengong aja ni? Tak tahu mau ngerjain apa ya? Makanya gabung nulis di situs pergerakan. Tak ada ruginya deh kalau sahabat-sahabat sering buka situs ini, karena di sini tempat kita untuk berbagi. Seperti yang satu ini.

Bagi sahabat-sahabat pergerakan yang mau nambah uang saku tuk bantu kurangin beban ortu di kampung, ada info menarik nie. Mau tahu? Makanya gaul dong sesama warga pergerakan.

Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh membutuhkan tenaga untuk membantu pengerjaan supply buku. Jumlah bukunya sekitar 80 ribu eksamplar. Honornya juga lumayan lho.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi sahabat Nazarullah atau datang aja ke Mabes PMII Aceh setiap hari dan malamnya. Kalau mau sich!!

Lowongan Tempat Tinggal Gratis


Sahabat-sahabat warga pergerakan PMII Aceh yang saat ini menghabiskan banyak biaya untuk bayar kos, PMII Aceh menawarkan tempat tinggal GRATIS untuk sahabat-sahabat semua. Dengan fasilitas dua kamar tidur di lantai II, air PDAM dan sumur, listrik dan tiga kamar mandi.

Bagi sahabat-sahabat yang berminat dapat menghubungi Sekretaris Umum PMII Aceh atau datang langsung ke Mabes PMII Aceh setiap hari dan malamnya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Ingat, kesempatan ini dibatasi untuk 4 warga pergerakan.

"Zikir, Fikir dan Amal Shaleh"